Wednesday, June 4, 2014

12:07 PM

Sudah lama sepertinya tidak menulis apapun di laman ini. Maaf terlupakan. Tapi kali ini saya hadir dengan kabar baik.

Saya sudah menemukan seseorang yang dapat membuat saya percaya lagi kalau saya bisa sayang dan disayangi lagi oleh orang lain. Sejujurnya dia orang baru bagi saya. Kenalpun belum sampai setengah tahun. Tapi entah kenapa saya merasa sangat nyaman dan hangat saat bersama dia.

Dia teman yang baru saya kenal saat Kuliah Kerja Nyata atau KKN di Aroba, Papua Barat. Sepanjang persiapan, dia hampir tidak pernah menampakkan diri hingga saya pikir dia telah berpindah tim. Tadinya pun saya berencana untuk mengundurkan diri. Namun, ke Papua adalah impian saya. Jadi, saya urungkan niat tersebut. Mungkin ini takdir. Haha anggap saja begitu.

Di sana tidak ada sinyal ataupun televisi. Handphone tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena ini, hiburan kami hanya bercengkrama satu sama lain.

Awalnya saya tidak sengaja tidur di sampingnya. Dan malam itu berakhir dengan kami tidak tidur dan sibuk bercerita. Tidak terhitung berapa banyak tawa dan canda yang kami bagi. Malam berikutnya dan hingga KKN selesai, saya selalu tidur di sampingnya. Jangan berpikir macam-macam. Seluruh anggota pria tidur di ruang tengah dan beberapa anggota wanita turut tidur di situ karena lebih sejuk, termasuk saya. Tidur di sampingnya menjadi sebuah kebiasaan yang tidak saya inginkan. Secara tidak sadar, saya menyapu matras tempat kami akan tidur dan menyiapkan bantal untuknya.

Setiap malam, kami tak henti-henti bertukar cerita. Tentang masa kecil, masa sekolah, kehidupan kuliah, hingga masa lalu kami. Semakin saya berbincang dengannya, semakin saya merasa hangat, aman, juga nyaman.

Suatu malam, kami harus ke rumah kepala kampung untuk berdiskusi mengenai acara besok. Kampung itu sangat gelap. Listrik hanya didapat melalu generator yang belum tahu kapan bisa terisi oleh solar. Saya takut gelap dan dia tahu persis hal itu. Tangan saya tiba-tiba digenggamnya dan ia menyembunyikan genggaman itu agar tidak terlihat oleh teman kami yang lain. Jantung saya berdetak sangat cepat dan semakin cepat. Sungguh, sejak saat itu, saya tidak ingin melepaskan genggamannya sedetikpun. Dan syukurlah, ia pun tidak ingin melepaskan genggaman itu.

Banyak hal yang harus kami lewati untuk bisa bersama. Banyak hal yang harus diselesaikan dahulu. Tapi pada akhirnya, Tuhan mengizinkan kami untuk bersama. Hanya rasa syukur yang bisa saya rasakan.
Dia seperti penyeimbang saya yang terlalu perasa dan pemikir. Dia terasa seperti segalanya yang saya impikan, inginkan, dan butuhkan. Terasa egois rasanya jika saya masih ingin lebih darinya. Karena sesungguhnya dia lebih dari sekedar cukup. Jika ada kosakata yang melebihi "lengkap", itu kata yang tepat untuknya. Hidup saya lebih dari sekedar lengkap dengannya.

Saya hanya tidak ingin kehilangan dia. Saya hanya ingin terus bersama dia. Karena selama ada di dekatnya, saya tidak bisa lebih tenang lagi.